Home

Rabu, 14 September 2016

Masuk Islam Karena Senyuman





Kisah ini diceritakan oleh seorang pegiat dakwah yang masyhur, beliau bernama Syaikh Nabil Al-Iwadhi. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul, “ Kisah-Kisah Nyata.” Cerita ini diambil dari salah seorang pegiat dakwah di Amerika serikat.
            Syekh Nabil mengisahkan, saat beliau tinggal di Amerika, beliau memberikan pengajian di salah satu masjid di sana. Dalam pengajian itu tiba-tiba salah seorang jamaah memotong perkataannya dan berkata,
“Wahai Syaikh, aku mau masuk Islam, bimbinglah  aku untuk membaca dua kalimah syahadat!”

Sabtu, 20 Agustus 2016

Dokter Yang Masuk Islam Karena Asi


Kisah ini terjadi di salah satu rumah sakit di Amerika Serikat. Di rumah sakit itu bertugas seorang dokter muslim berkebangsaan Mesir yang cukup dikenal prestasinya yang cemerlang. Sebut saja namanya dokter Ahmad. Selama praktek di sana, ia banyak mengenal dokter-dokter lain sejawatnya. Salah satunya adalah Dokter John. Keduanya menjalin hubungan persahabatan begitu kental karena selain satu kantor, mereka juga sama-sama memiliki keahlian sebagai spesialis kandungan. Mereka biasa mengobrol tentang banyak topik, dari yang ringan keseharian sampai berdiskusi masalah keyakinan.
            Suatu saat terjadi peristiwa menghebohkkan di Rumah Sakit dimana mereka sama-sama bekerja. Malam itu,

Minggu, 07 Agustus 2016

Siapa Mencaci Dia Terhina



              Malam itu rembulan baru saja muncul  sepenuh wajah. Memijarkan sinarnya yanng indah  dan mempesona. Aku dan suamiku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan ini. Perhelatan resepsi pernikahanku malam itu berlangsung cukup meriah.
            Saat para tamu undangan dan sebagian kerabat pulang kerumahnya masing-masing, dengan langkah penuh gembira, aku dan suamiku bergegas memasuki rumah yang telah disediakan oleh keluarga suamiku. Aku dan suamiku saling bercanda dan tertawa riang.
            Kami berjalan memasuki rumah laksana pangeran dan permaisurinya. Sesampainya di dalam kamar, kami lantas menanggalkan baju kebesaran pernikahan kami dan masing-masing menggantinya denngan baju tidur.
            Sebelum kami beranjak tidur, kami baru menyadari kalau perut kami begitu lapar karena sibuk menyambut tamu-tamu yang hadir sehingga tidak sempat makan malam.
            Aku lalu menata meja makan dan menyiapkan makanan yang memang telah disediakan keluargaku khusus untuk pengantin. Malam itu,

Sabtu, 06 Agustus 2016

300 KM Menuju Jahanam





Siang itu terik meradang,bola matahari seakan terbakar lebih dari biasanya,lidahnya menjulur-julur ke bumi menebarkan panas tiada terhingga. Debu beterbangan terhempas angin menari-nari di udara dan kemudian terdampar entah kemana. Sempurnalah terik hari itu. Tapi aku masih muda dan kuat,apalah arti cuaca yang buruk bagi sebuah keinginan.
            Bersama teman-teman, aku telah merencanakan sebuah perjalanan dari Riyadh menuju Damam dengan menggunakan mobil.
            Kami pun berangkat dengan kebahagiaan yang mekar di hati masing-masing, sesudah berkumpul di rumah yang ditentukan,mobilpun melaju melewati ruas-ruas jalan. Tak lama sesudah menancapkan gas, kami melewati rambu di sebelah kiri jalan. Kawan-kawanku membacanya dengan semangat,
“Dhamam  300 KM”
            Namun alangkah kagetnya aku,apa yang mereka baca ternyata tidak sama dengan apa yang aku lihat. Aku terperangah bercampur cemas,
“Bukan kawan-kawan,aku melihat rambu  tadi bertuliskan , Jahanam 300 KM !”

Minggu, 31 Juli 2016

Kisah Menakjubkan Orang Yang Mengharapkan Ridho Allah





Kisah ini menakjubkan yang disampaikan seorang da’i, demikianlah ceritanya:

 Suatu hari aku bersafar dari Thaif menuju Riyadh bersama istri  dan anak-anakku. Akan tetapi di tengah jalan mobilku rusak. Tatkala itu cuaca panas, maka akupun berhenti di dekat salah satu pom bensin (tempat peristirahatan yang juga lengkap dengan warung serta bengkel).
Maka akupun mengecek mobilku dengan memanggil seorang montir yang ada di  bengkel sekitar pom bensin tersebut. Sang montir mengabarkan bahwa mobilku rusak berat, mesin penggeraknya rusak dan hanya bisa diperbaiki di Thaif atau di Riyadh. Maka akupun berdiri di bawah terik matahari,sementara istri dan anak-anakku tetap berada di dalam mobil.
Aku tidak tahu apa yang harus kukerjakan, anak-anakku bagaimana?, istriku?, mobilku? Aku sungguh bingung apa yang harus kulakukan.Orang-orang melewatiku dengan cuek. Hingga akhirnya, tak lama kemudian ada seseorang yang keluar dari pom bensin lalu berhenti  di mobilku yang  rusak lalu menyapaku,
“Assalamu’alaikum.”

Minggu, 24 Juli 2016

Kisah Romantis Tsabit bin Ibrahim



Buah Menjaga Diri Dari Yang Haram
            Seorang lelaki yang shalih bernama Tsabit bin  Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan.
Melihat apel yang ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit,apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat  itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukanlah miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.
            Maka dia pergi ke dalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu dia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata,
“Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini,aku berharap anda menghalalkannya .”
Orang itu menjawab,
“Aku bukan pemilik kebun ini, aku pembantunya  yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya.”
            Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi,
“Diamana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.”
            Pengurus kebun itu memberitahukan,
“Apabila engkau ingin pergi  ke sana maka engkau harus menempuh perjalalanan sehari semalam”.