Home

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2017

Adzan Terakhir Bilal Bin Rabah



               


           
          Semua pasti tahu, bahwa pada zaman nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandangkan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas.
            Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijriah.
            Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengkumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. Memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata,
“Biarkan aku jadi mu’adzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan mu’adzin siapa-siapa lagi.”
            Abu bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya,

Sabtu, 22 Oktober 2016

Cukuplah Satu Tamparan Ini Menjawab Tiga Pertanyaanmu




 Seorang santri memutuskan untuk menimba ilmu agama ke luar negeri. Dia bermukim lama sekali di negara tempatnya belajar. Sesudah ia merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, ia kembali pulang pada keluarga dan negaranya.
            Sesampainya di rumah ia bertanya kepada keluarganya adakah di kampung ini ulama yang luas ilmunya, karena ia mempunyai beberapa pertanyaan yang saat ini selalu saja menghantui pikirannya.
            Keluarganya mengatakan, bahwa ada seorang ulama saleh dan memiliki ilmu agama yang mumpuni yang bisa menjawab pertanyaan sang santri. Mendengar jawaban keluarganya ia merasa sangat bahagia. Ia pun bergegas menuju rumah ulama tersebut. Sesampainya di sana ia lalu berdialog dengan ulama itu.
“Assalamu’alaikum,” ucap santri santun.
“Wa’alaikum salam,” jawab sang ulama seraya tersenyum.
            Merasa tidak mengenal tamunya ,ulama itu bertanya kepada santri yang ada di depannya,
“Siapakah nama Anda? Adakah sesuatu yang bisa saya bantu?”
“Nama saya Mahmud. Kalau berkenan, saya juga ingin bertanya kepada Anda, siapakah Anda? Bolehkan saya bertanya mengenai tiga pertanyaan kepada Anda?” Tanya santri.
“Saya hanya hamba Allah biasa. Akan tetapi, Insya Allah saya akan mencoba menjawab pertanyaanmu, Nak. Dengan izin Allah tentunya,” ujar ulama itu merendah.
 “Apa Anda yakin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Karena sebelumnya, saya pernah menanyakan masalah ini kepada banyak ulama, namun mereka tidak bisa mejawabnya,” ujar santri itu kembali menjelaskan.
“Saya akan mencobanya semampu saya, Nak. Silakan ajukan apa yang hendak kamu tanyakan?”

Minggu, 07 Agustus 2016

Siapa Mencaci Dia Terhina



              Malam itu rembulan baru saja muncul  sepenuh wajah. Memijarkan sinarnya yanng indah  dan mempesona. Aku dan suamiku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan ini. Perhelatan resepsi pernikahanku malam itu berlangsung cukup meriah.
            Saat para tamu undangan dan sebagian kerabat pulang kerumahnya masing-masing, dengan langkah penuh gembira, aku dan suamiku bergegas memasuki rumah yang telah disediakan oleh keluarga suamiku. Aku dan suamiku saling bercanda dan tertawa riang.
            Kami berjalan memasuki rumah laksana pangeran dan permaisurinya. Sesampainya di dalam kamar, kami lantas menanggalkan baju kebesaran pernikahan kami dan masing-masing menggantinya denngan baju tidur.
            Sebelum kami beranjak tidur, kami baru menyadari kalau perut kami begitu lapar karena sibuk menyambut tamu-tamu yang hadir sehingga tidak sempat makan malam.
            Aku lalu menata meja makan dan menyiapkan makanan yang memang telah disediakan keluargaku khusus untuk pengantin. Malam itu,

Minggu, 31 Juli 2016

Kisah Menakjubkan Orang Yang Mengharapkan Ridho Allah





Kisah ini menakjubkan yang disampaikan seorang da’i, demikianlah ceritanya:

 Suatu hari aku bersafar dari Thaif menuju Riyadh bersama istri  dan anak-anakku. Akan tetapi di tengah jalan mobilku rusak. Tatkala itu cuaca panas, maka akupun berhenti di dekat salah satu pom bensin (tempat peristirahatan yang juga lengkap dengan warung serta bengkel).
Maka akupun mengecek mobilku dengan memanggil seorang montir yang ada di  bengkel sekitar pom bensin tersebut. Sang montir mengabarkan bahwa mobilku rusak berat, mesin penggeraknya rusak dan hanya bisa diperbaiki di Thaif atau di Riyadh. Maka akupun berdiri di bawah terik matahari,sementara istri dan anak-anakku tetap berada di dalam mobil.
Aku tidak tahu apa yang harus kukerjakan, anak-anakku bagaimana?, istriku?, mobilku? Aku sungguh bingung apa yang harus kulakukan.Orang-orang melewatiku dengan cuek. Hingga akhirnya, tak lama kemudian ada seseorang yang keluar dari pom bensin lalu berhenti  di mobilku yang  rusak lalu menyapaku,
“Assalamu’alaikum.”

Minggu, 24 Juli 2016

Kisah Romantis Tsabit bin Ibrahim



Buah Menjaga Diri Dari Yang Haram
            Seorang lelaki yang shalih bernama Tsabit bin  Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan.
Melihat apel yang ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit,apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat  itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukanlah miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.
            Maka dia pergi ke dalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu dia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata,
“Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini,aku berharap anda menghalalkannya .”
Orang itu menjawab,
“Aku bukan pemilik kebun ini, aku pembantunya  yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya.”
            Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi,
“Diamana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.”
            Pengurus kebun itu memberitahukan,
“Apabila engkau ingin pergi  ke sana maka engkau harus menempuh perjalalanan sehari semalam”.